Tanpa Ribut-Ribut, Pemuda Kutim Resmi Bentuk Forum Muda Berbudaya

Rangkaian diskusi dalam proses membentuk Forum Muda Berbudaya (FMB)

Loading

KUTAI TIMUR – Di balik acara yang sederhana dan minim sorotan sejarah baru tercipta di Kutai Timur. Sejumlah pemuda di daerah ini resmi membentuk Forum Muda Berbudaya (FMB). Bukan sekedar kumpul-kumpul, forum ini lahir dari keresahan lama: budaya lokal yang kian terpinggirkan.

 

Tak banyak yang tahu, forum ini sebenarnya disiapkan sebagai gerakan jangka panjang. Bukan hanya untuk kebutuhan acara seremonial, tapi sebagai ruang pemuda untuk mengambil alih peran pelestarian budaya.

 

“Alhamdulillah, pada hari ini sudah separuh dari cita-cita saya tercapai yaitu membentuk Forum Muda Berbudaya. Ini suatu hasil luar biasa dan berkah ke Allah SWT,” ungkap Inisiator FMB yang juga selaku Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur, Padliansyah dalam wawancaranya pada Sabtu, 05 Juli 2025, pukul 14.35 WITA di Gedung Wanita, tepatnya di ruang rapat Tim Penggerak PKK Kutai Timur.

 

Inisiator FMB yang juga selaku Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur, Padliansyah (kiri) yang didampingi oleh Ketua Umum FMB Kutai Timur, Rachmad Taufiqi (kanan) dalam sesi wawancaranya

 

Lebih unik lagi, gerakan ini dibangun secara mandiri. Padliansyah menegaskan, forum ini tidak akan membebani pemerintah daerah.

 

“Kemudian sisi lainnya juga ini bukan hanya sampai pembentukan. Ini juga nanti merupakan tanggung jawab saya pribadi untuk melegalkan kepada lembaga. Karena saya lah inisiatornya, saya tidak akan membebani pemerintah. Tidak membebani bidang saya supaya lembaga ini bisa resmi berdiri, supaya legal ke depannya,” terangnya.

 

Gerakan ini juga tak berhenti di tataran kabupaten. Mereka sudah menyiapkan rencana untuk menjangkau 18 kecamatan di Kutai Timur. Bahkan, dukungan dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pendidikan telah disiapkan untuk memperkuat gerakan di tingkat kecamatan.

 

Prinsip mereka sederhana, tapi tegas: organisasi tak perlu gemuk, yang penting kerja nyata. Bahkan media lokal pun diajak terlibat untuk mengajak potensi budaya daerah.

 

“Nah, saya di situ prinsipnya sebuah organisasi kita tidak penting gemuk biar tipis tapi kerja benar dengan memanfaatkan semua anggota. Jadi tidak mesti dia bidang ini di bidang itu,” paparnya.

 

Padliansyah juga membuka bocoran: saat ini Kementrian sedang bersiap mempromosikan kawasan Sangkulirang sebagai warisan budaya dunia. Ia mengingatkan agar media lokal jangan sampai kalah cepat dengan media asing dalam mengangkat isu ini.

 

“Kemungkinan lima media ini dia akan menyorot ada apa di Sangkulirang. Teman-teman ini bocorannya jangan sampai keduluan orang asing mengangkat. Jangan sampai orang asing mengangkat kalau kita enggak tahu,” imbau Padliansyah. (RH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini